Pemantaun Ekosistem KKD SAP Selat Pantar dan Laut sekitarnya

Pemantauan ekosistem mengukur variabel fisik, kimiawi, dan biologis pada setiap saat dan dari setiap tempat, yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang perubahan ekosistem. Meskipun ada indikator kesehatan ekosistem jangka pendek dan panjang, namun mengingat sensitivitas dan kerumitan dari ekosistem, serta perubahannya yang terjadi perlahan-lahan, ekosistem membutuhkan pemantauan dalam jangka waktu yang panjang dan berulang-ulang. keanekaragaman hayati, yang digunakan dalam pengembangan perencanaan dan pengelolaan yang efektif.

Melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan termasuk ilmuwan, universitas, pemerintah dan organisasi non-pemerintah dalam melakukan berbagai upaya pemantauan ekologi yang berkelanjutan, termasuk:

Upaya Pemantauan Ekologi Berkelanjutan
  • Pemantauan terumbu karang;
  • Memantau sumber daya hayati kelautan seperti bagaimana nelayan di KKD Selat Pantar dan Laut Sekitarnya memanfaatkan sumber dayanya (cara penangkapan ikan, kapan, di mana, dan oleh siapa);
  • Memantau tekanan yang dihasilkan melalui kegiatan pariwisata di dalam jejaring KKD.

Karena kontribusi uniknya dalam konteks sains dan praktik, pemantauan merupakan aspek yang tidak terpisahkan dari upaya-upaya penelitian, pengelolaan, dan pembuatan kebijakan ekologis. Semua informasi yang diperoleh melalui kegiatan pemantauan ditafsirkan dan digunakan untuk menentukan efektivitas pengelolaan KKD dalam melindungi keanekaragaman hayati, yang digunakan dalam pengembangan perencanaan dan pengelolaan yang efektif.

Konservasi Duyung

Dugong merupakan mamalia laut anggota ordo Sirenia. Dugong mudah ditemukan pada padang lamun yang menjadi habitat pakannya. Mamalia laut ini meruapakan satwa yang dilindungi. Menurut IUCN Dogong memiliki status rentan punah (vulnerable), dan dalam CITES dugong termasuk dalam golongan Appendix I. Selain itu, dugong secara tegas dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Satwa dan Tumbuhan.

Populasi dugong kini semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keterbatasan bahan informasi mengenai populasi dugong, perburuan dan pemanfaatan ilegal, terjaring secara tidak sengaja (bycacth), dan tertabrak kapal wisata atau nelayan. Selain itu terdapat penyebab lainnya, yaitu penurunan luas area padang lamun karena alih fungsi lahan yang tidak tepat, penurunan kualitas air laut, dan praktik penangkapan ikan yang merusak. Dugong yang menyandang status rawan punah dan dengan populasinya yang terus menurun, maka diperlukan upaya untuk mengkonservasi hewan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Post comment