Masyarakat Lokal Alor

Kabupaten Alor sebagai salah satu dari 21 Kabupaten/Kota Provinsi di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan dengan 15 pulau yaitu 9 pulau yang telah dihuni dan 6 pulau lainnya belum atau tidak berpenghuni. Luas wilayah daratan 2.864,64 km², luas wilayah perairan 10.773,62 km² dan panjang garis pantai 287,1 km. Secara geografis daerah ini terletak di bagian utara dan palingtimur dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 8º6’LS – 8º36’ LS dan 123º48’ BT – 125º48’ BT. Batas alam Kabupaten Alor disebelah utara dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Selat Ombay, sebelah timur dengan Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste dan sebelah barat dengan Selat Alor (Kabupaten Lembata). Pulau Alor merupakan bagian dari Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar 260 km dari Kupang (Ibu Kota Provinsi NTT), 360 km dari Ende (Flores), dan 1600 km sebelah Timur Ibu Kota Jakarta.

Secara geografis kondisi daerah Alor merupakan daerah dengan pegunungan yang tinggi, dibatasi oleh lembah juga jurang yang cukup dalam dan sekitar 60 persen wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan di atas 40 persen. Dataran tinggi Alor merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan pertanian karena mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi sedangkan daerah lereng lebih cocok untuk pengembangan sistem terasering.

Masyarakat Kabupaten Alor sangat majemuk dalam berbagai dimensi kehidupan. Kemajemukan atau pluralitas itu menjadi bagian dari kekayaan Kabupaten Alor. Beberapa sumber sejarah mengungkapkan bahwa sebelum agama-agama memasuki wilayah Alor, masyarakat asli telah hidup menyatu berkaikatan keturunan yang sama, warisan budaya yang sama, warisan tanah suku dan harta material yang sama, perkawinan antar individu dengan keterlibatan keluarga dan suku yang selanjutnya membentuk sebuah keluarga besar. Relasi sosial antar warga masyarakat wilayah ini diwarnai oleh pola relasi kekerabatan yang begitu kuat. Pola relasi kekerabatan dimaksud adalah ikatan keanggotaan seseorang individu kedalam suatu keluarga yang terbina secara vertikal dan horisontal baik lewat perkawinan maupun lewat keturunan darah. Kemajemukan yang ada di eratkan oleh semangat saling menghargai, bekerjasama, rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Hal ini dapat ditemukan dan dibaca dari ungkapan-ungkapan tradisional yang banyak berkisah tentang pentingnya membangun kerjasama dan semangat kekeluargaan untuk membangun pulau kenari (Kabupaten Alor)

Masyarakat Alor, sudah sejak lama memiliki konsep aliansi tradisional yang disebut ”Bela” sebagaimana di ungkapkan Gomang (1994). Bela dibentuk melalui upacara yang disebut ” Bela Baja ” yaitu upacara ritual untuk menjalin rasa persaudaraan diantara sesama tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Beberapa contoh aliansi tradisional yang terpelihara hingga kini antara lain: antara Alor Kecil dengan Manatuto dan Atauru, Kolana dengan Liukisa, Bungabali dengan Taruamang, Lendona dengan pendatang Atauro, Pantar dengan Kolana serta Galiao Watang Lema dengan Solor Watang Lema.