Terima kasih telah berkunjung. Saat Anda di sini, kami ingin Anda bersenang-senang mengunjungi pulau-pulau spektakuler kami. Selama beberapa generasi, orang KKP Alor Pantar sangat memperhatikan keajaiban yang Anda lihat di sekitar Anda. Kami berharap Anda akan membantu kami terus melakukannya hari ini. Dengan menjadi pengunjung yang bertanggung jawab, Anda menjadi mitra dalam upaya komunitas kami untuk melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati KKP Alor Pantar yang kaya, dan warisan alam. Silakan ikuti tips di bawah ini untuk memastikan bahwa KKP Alor Pantar terus menjadi “Surga Asli. KKP Alor Pantar”.

HARAP LAKUKAN PARIWISATA YANG BERTANGGUNG JAWAB

  1. Pelajari tentang KKP Alor Pantar dan budaya kita
  2. Luangkan waktu beberapa menit untuk mempelajari tentang budaya & tradisi kami yang kaya.
  3. Berpakaian dan berperilaku sopan di desa, wilayah agama dan budaya.
  4. Hormati batasan pribadi. Jangan memasuki properti pribadi. Jaga lingkungan kita
  5. Buang sampah dengan benar, daur ulang jika memungkinkan.
  6. Penggunaan sumber daya secara sadar: meminimalkan penggunaan air dan energi.
  7. Terapkan 4 Rs: Kurangi, gunakan kembali, daur ulang, dan buang (yaitu, plastik. Lindungi satwa liar)
  8. Jangan menyentuh, memegang, berdiri di atas spesies apa pun dari terumbu, termasuk karang dan spesies laut lainnya seperti penyu, kerang, hiu, dll.
  9. Jangan berburu, membeli atau memakan spesies yang terancam punah dan memberi makan atau mengganggu satwa liar. Dukung inisiatif lokal
  10. Beli produk, seni, dan kerajinan lokal, tetapi bukan produk dari spesies yang terancam punah seperti penyu, kerang, dan karang.

Terima kasih telah menjamin bahwa kunjungan Anda merupakan pengalaman positif bagi Anda dan masyarakat KKP Alor Pantar.

Kampanye Pariwisata Bertanggung Jawab KKP Alor Pantar mendapat manfaat dari dukungan Yayasan WWF Indonesia dengan alamat situs web, www.wwf.or.id

Download : BEEP Pariwisata 

BMP Wisata Bahari 

Community Based Tourism

Community Based Tourism (CBT), atau sering disebut sebagai pariwisata berbasis masyarakat. Secara konseptual, prinsip dasar CBT adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataa. Sehingga, manfaat kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat

WWF Indonesia dengan strategi praktik wisata bahari yang berkelanjutan mendukung impovement pengelolan kawasan melalui pedampingan dan penjangkauan di masyarakat Ekowisata dengan skema pengemangan ekowisata berbasis masyarakat (Community based tourism). Ekowisata berbasis masyarakat /CBT adalah pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh masyarakat setempat dalam perencanaan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perenacanaan, pelaksanaan, dan pengelola usaha ekowisata dan segala keuntungan diperoleh. Ekowisata berbasi masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitik beratkan peran aktif komunitas. Program pariwisata berbasi masyarakat mendukung inisiatif yang dianggap perlu oleh masyarat, industri pengunjung dan sektor lainnya untuk memajukan industri pengunjung Alor 

pengelolaan destinasi mencakup menarik dan mendidik pengunjung yang bertanggung jawab mengadvokasi solusi untuk atraksi yang terlalu padat, infrastruktur yang terlalu padat, dan masalah terkait pariwisata lainnya dan bekerja dengan lembaga lain yang bertanggung jawab untuk meningkatkan aset alam dan budaya yang dihargai oleh penduduk dan pengunjung Alor.

Berikut merupakan Desa dapingan WWF Indonesia yang telah menerapkan pariwisata berbasis masyarakat.

CBT KABOLA

Forum Komunikasi Nelayan Kabola (FKNK) merupakan sebuah wadah bersama para nelayan yang berada di Kelurahan Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Forum ini didirikan atas inisiatif nelayan kecil yang merasa perlu ada kebersamaan hati, niat, dan tekat untuk membangun usaha pariwisata yang unitnya terdiri atas kelautan dan perikanan, ekowisata (pengantar kapal, pemandu wisata, kuliner) dan konservasi (Pokmaswas dan Pembibitan Mangrove). Wadah ini didirikan dengan visi, misi dan tujuan besar, yaitu seutuhnya demi kesejateraan masyarakat Kelurahan Kabola. Forum Komunikasi Nelayan Kabola (FKNK) telah terdaftar di Dinas Pariwisata Kabupaten Alor sebagai pengelola kelurahan wisata dan merupakan habitat bagi seekor duyung (Dugong dugon) jantan yang dikenal sebagai “Mawar”. Paket tambahan berupa perjalanan ke Pulau Sika (perjalanan dengan kapal, kunjungan makam Pulau Sika, trekking hutan dan vegetasi pulau, menikmati pulau mangrove).

CBT PANTEE DEERE

Merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Kabola, kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini terletak di selatan Laut Flores, berbatasan dengan Kelurahan Kabola, Desa Lawahing, dan Desa Kopidil. Desa dengan luas 315.74 hektar ini memiliki pantai pasir putih yang halus atau sering disebut dengan pantai susu yang membentang sejauh 2 kilometer, selain itu terdapat ekosistem mangrove, padang lamun, tebing berbatu, serta kehidupan dan budaya masyarakat pesisir dan gunung yang menarik. Akses menuju desa ini membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Bandara Udara Mali, dan dapat merental mobil dan motor dari bandara tersebut. Desa Pante Deere memiliki daya tarik wisata alam yaitu sunset point dan sunrise point yang indah sehingga dapat menarik wisatawan lokal maupun wisatawan asing untuk berwisata di desa Pante Deere ini.

CBT MUNASELY

BUMDes Manusirikoko merupakan Badan Usaha Milik Desa Munasely sebagai wadah yang mengembangkan perekonomian Desa sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Desa dengan memperhatikan pada nilai-nilai lokal dan budaya setempat dengan meningkatkan produk lokal berupa kuliner dan aneka macam masakan yang disajikan dalam bentuk tradisional yang ramah lingkungan. Kegiatan ekowisata desa dikoordinir oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Manusirikoko Desa Munaseli yang menyadari potensi yang ada di desa mereka dan mengembangkan usaha ekowisata desa sebagai program unggulan mereka. Desa Munaseli merupakan habitat bagi duyung, hiu, penyu, lumba-lumba serta penghasil ikan dan rumput laut; juga memiliki hutan tropis dan perkebunan dengan kehidupan masyarakat nan menarik. Munaseli juga merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Pulau Pantar, dan memiliki relasi dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Alor serta Majapahit.

CBT AIMOLI

Desa Aimoli merupakan desa yang memiliki keindahan wilayah pesisirnya (pantai dengan hutan mangrove), persawahan dan pegunungan, sunset, dan juga budayanya yang memiliki kekhasan tersendiri.

 

Kelompok Titian Mangrove dan Tongke 5 merupakan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang terletak di desa Aimoli, Kecamatan Alor Barat Laut. Kedua kelompok ini terbentuk dengan tujuan mengembangkan potensi wisata yang ada di desa tersebut, dalam hal ini Titian Mangrove dan Tongke 5 dengan konsep Sapta Pesona dan CBT (Community Based Tourism). Kelompok Titian Mangrove sendiri memiliki visi mewujudukan ekowisata Titian Mangrove Aimoli menjadi ekowisata mangrove yang indah, nyaman, dan bersih, serta menjamin kelestarian mangrove melalui konsep pariwisata berbasis masyarakat. Beberapa rencana kerja dari kelompok ini, antara lain: pembersihan dan penataan kawasan mangrove, pengadaan tempat sampah yang ecofriendly, pengadaan café sebagai tempat wisata kuliner, educenter mangrove, serta penyediaan dan penanaman bibit mangrove yang semuanya melibatkan masyarakat setempat dengan pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Sama halnya Titian Mangrove, Tongke 5 juga memiliki visi, yakni terwujudnya pariwisata desa Aimoli yang bermutu, berdaya saing, dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa Aimoli berdasarkan konsep CBT (Community Based Tourism). Adapun rencana kerja dari kelompok ini, antara lain: penambahan spot foto berupa ayunan di tepi pantai, papan informasi tentang sejarah dan mitos-mitos yang berkembang di sekitar kawasan wisata, menambah tempat santai berupa lopo-lopo, tarian Holeng-holeng sebagai tarian khas Aimoli, serta kantin sebagai tempat makan yang menawarkan kuliner khas Aimoli. Sebagai kelompok dampingan dari WWF sejak tahun 2021, kedua kelompok ini pun memiliki keunikan masing-masing, meskipun memiliki objek utama yang sama: mangrove. Objek wisata Titian Mangrove sendiri lebih menawarkan sisi edukasinya. Pengunjung yang datang tidak hanya berwisata, namun juga bisa belajar menanam dan mengenali jenis-jenis mangrove yang ada di kawasan objek wisata tersebut. Berbeda dengan Titian Mangrove, Tongke 5 lebih menonjolkan keindahan sunset-nya dengan tambahan sisi budayanya, seperti sejarah dan mitos-mitos yang ada di kawasan objek wisata itu sendiri dan tarian khas Aimoli.

SOP Wisata Pengamatan Dugong

Duyung (Dugong dugon) merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut yang dijumpai di perairan Indonesia. Salah satu wilayah yang dihuni oleh duyung berada di Kabupaten Alor yang termasuk ke dalam kawasan konservasi Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan laut sekitarnya. Kabola terletak di sebelah Bandara Mali, Alor. Kelurahan ini terdiri atas ekosistem mangrove dan lamun, serta memiliki satu pulau bersejarah – Pulau Sika. Perairan Sika merupakan habitat bagi Mawar sang duyung, yang dilindungi oleh masyarakat Kabola yang tinggal di pesisir pantai Mali.
Mohon untuk membaca dan memahami SOP pengamatan Dugong sebelum anda melakukan wisata pengamatan Dugong

SIGNING BLUE

Signing Blue adalah insiatif WWF-Indonesia untuk mewujudkan Kepariwisataan Bahari yang Bertanggung Jawab (Responsible Marine Tourism/RMT). Signing Blue memiliki perangkat Marine Tourism Improvement Program (MTIP) yang memungkinan pelaku kepariwisataan mengetahui level praktik keberlanjutan yang telah dilakukannya. Signing Blue ditujukan bagi penyedia jasa kepariwisataan dan wisatawan.

Signing blue ini merupakan bentuk Platform yang diinisiasi oleh WWF Indonesia untuk memperkuat sektor bisnis dengan gerakan konservasi. Signing blue ini adalah mitra untuk memastikan praktik pariwisata berkelanjutan terlaksana secara konsisten dan pada akhirnya meningkatkan kualitas lingkungan hidup, manusia dan menguatkan perekonomian lokal. hal ini merupakan bentuk meningkatkan nilai bisnis dan citra perusahaan, dukungan dari mitra dari tim ahli pariwisata, jejarang promosi dan koneksi bisnis. 

Untuk informasi lanjut tentang signing blue dan informasi cara bergabung sebagai member signing blue anda dapat mengunjungi Website Signing Blue 

Meningkatnya jumlah wisatawan ke dalam kawasan secara terus menerus bisa berdampaknegatif terhadap habitat dan kehidupan satwa yang ada di dalam kawasanUntuk itudiperlukan langkah yang strategisbaik melalui intervensi pengelolaan oleh SUOP KKD SAP Selat Pantar dan Laut sekitarnya, maupun juga langkah proaktif oleh dunia usahaWWF-Indonesia telah menginisiasi sebuah platform untuk menjaring komitmen dari penyedia wisata dan wisatawan, bernama Signing Blue (SB) yang bertujuan untuk mengikat para pelaku usaha dan wisatawan untuk bersama-sama mendorong gerakan konservasi terus bergerak, sembari menjalankan praktik bisnis dan aktivitas wisatawan secara berkelanjutan, berkeadilan serta setara bagi komunitas-komunitas lokal. Perkembangan keanggotaan Signing Blue di wilayah Kabupaten Alor tampak tumbuh cukup pesat terlihat dari 2 member signing blue pada kategori Blue Allies di Kabupaten Alor. Berikut profile 2 Blue Allies di Kabupaten Alor :

La P’tite Kepa

La P’tite Kepa ( alor-diving-kepa.com ) adalah salah satu akomodasi yang berada di jantung Kepulauan Alor yang terinspirasi oleh rasa hormat terhadap budaya lokal dan alam. Resort ini menawarkan aktivitas wisata menyelam sebagai salah satu daya tariknya. Keindahan dunia bawah laut Alor yang masih alami dan tinggi akan keanekaragaman hayatinya menjadi sangat menarik dan indah untuk dilihat oleh para wisatawan. Kegiatan penyelaman akan dipandu oleh Tim Cedric yang telah memiliki pengalaman selama 20 tahun sebagai perintis di daerah ini. La P’tite Kepa juga menawarkan pemandangan indah wisata pantai dan wisata kegiatan budaya.

Sebagai bentuk komitmennya untuk menghormati budaya lokal dan alam sekitarnya, pada tahun 2017 La P’tite Kepa bergabung dengan Yayasan WWF-Indonesia untuk mewujudkan pariwisata bahari yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di Indonesia melalui program Signing Blue. Kecintaan La’Ptite Kepa akan budaya dan alamnya terbukti dengan hasil penilaian yang dilakukan oleh Signing Blue, bahwa resort berhak mendapatkan Starfish 2, yang berarti telah mendemonstrasikan komitmen yang tinggi untuk menerapkan praktik-praktik terbaik pariwisata bahari yang bertanggung jawab dan mendorong orang lain untuk ikut terlibat.

Dalam mengurangi jejak ekologinya, La P’tite Kepa memenuhi konsumsi hariannya menggunakan bahan makanan lokal dan meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai, serta dilakukan penghematan penggunaan air dengan pemanfaatan air laut untuk menyiram toilet. Untuk kebutuhan listrik di kapal dan resort, La P’tite juga menggunakan panel surya. Selain itu, pengelolaan limbah juga sangat baik, dari mulai pengelolaan limbah padat, cair, B3, serta pemilahan sampah. Pada aktivitas penyelaman, La’Ptite Kepa memiliki komitmen untuk tidak membuang jangkar dan memanfaatkan mooring buoy untuk berlabuh. Pemandu selam sangat terlatih untuk menangani wisatawan lanjut usia dan sangat terampil dalam mencermati biota-biota yang unik.

La P’tite Kepa memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk mengenalkan produk-produk khas daerah kepada wisatawan, guna membantu peningkatan ekonomi lokal. Resort akan mempromosikan kerajinan asli masyarakat lokal seperti kain tenun amapura, madu kepa, dan keripik pisang. Wisatawan yang datang biasanya diberikan menu dengan makanan dan peralatan makanan khas Alor. Adapun kegiatan pendampingan kelompok seperti untuk pembuatan vanili, memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah bersama Kelompok Alor Divers untuk masyarakat sekitar, kolaborasi dengan tour operator lokal dengan menawarkan wisata ke Kampung Umapara dan Ula untuk melihat pembuatan kain tenun khas Alor.

La’Ptite Kepa juga sangat memperhatikan kelengkapan legalitas perusahaannya, serta menjalankan hak dan kewajikban karyawannya dalam operasional. Peningkatan kapasitas karyawan juga selalu dilakukan, salah satunya dengan memberikan pelatihan menyelam. Keaktifan La P’tite Kepa untuk pelestarian lingkungan juga dapat dilihat dari kolaborasi dan kontribusi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dalam penyusunan dokumen rencana Pengelolaan dan Zonasi SAP Selat Pantar dan Laut sekitarnya di Kabupaten Alor tahun 2013-2033. Selain itu, La P’tite turut aktif dalam pelaporan illegal fishing dan aktivitas eksploitasi satwa yang dilindungi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai aktivitas yang telah dilakukan oleh La P’tit Kepa dalam mewujudkan pariwisata bahari yang berkelanjutan dan bertanggung jawab bersama dengan program Signing Blue

Mala Tours

Mala Tours (Mala Tours) adalah operator ekowisata inbound dan outbound yang berbasis di Indonesia. Selain menyelenggarakan ekowisata seperti pengamatan satwa seperti dugong dan hewan lainnya, wisata bakau, wisata desa tradisional, wisata kopi, wisata island hopping, snorkeling dan menyelam, spearfishing, serta freediving. Mala Tour juga menyelenggarakan perjalanan wisata unik seperti wisata religi, fotografi, dan ekspedisi ke berbagai negara di dunia.

Mala Tour telah bergabung dalam program Signing Blue yang dinisiasi oleh Yayasan WWF-Indonesia pada tahun 2017. Signing Blue merupakan program yang mengajak pelaku usaha yang berada di Indonesia untuk dapat menerapkan dan mewujudkan pariwisata bahari yang berkelanjutan dan bertanggung jawab di Indonesia. Berawal dari inilah, Mala Tour melakukan operasionalnya secara keberlanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Berdasarkan hasil penilaian dari Signing Blue, Mala Tour mendapatkan Starfish 2, yang berarti perusahaan telah berkomitmen penuh terhadap aktivitas pariwisata yang bertanggung jawab. Komitmen dalam Mala Tour juga mendapatkan penghargaan dari Badan PBB – International Trade Center (ITC) sebagai salah satu dari enam bisnis pariwisata paling berpengaruh yang dimiliki & dikelola oleh wanita di Indonesia.

Dalam keanggotaannya pada Signing Blue, Mala Tour telah menunjukan beberapa aktivitas untuk pelestarian lingkungan, salah satunya adalah memberikan pengarahan dalam website dan secara langsung kepada wisatawan tentang tata cara melakukan interaksi kepada satwa, melakukan pengarahan mengenai kawasan konservasi, dan meminimalisir penggunaan air minum kemasan plastik. Mala Tour juga melakukan pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata. Selain mendukung perekonomian lokal, hal ini juga mendorong peningkatan pemahaman masyarakat terhadap lingkungan sekaligus terlibat langsung dalam mengelola ekosistem dan satwa yang terdapat didalamnya. Pembinaan yang dilakukan terhadap masyarakat dalam penyediaan pelayanan serta produk wisata untuk tamu, hal ini menjadi nilai tambah tersendiri yang menunjukan keberhasilan mendorong semua level masyarakat untuk terlibat dalam penyediaan pelayanan Mala Tours.

Mala Tours juga menunjukan keterlibatan dalam masyarakat lokal secara maksimal dengan kerja sama untuk penyediaan jasa selama kegiatan wisata, memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan, dan melakukan pembinaan bersama mitra untuk hasil kerajinan produk lokal. Pengguna jasa Mala Tours juga dilibatkan secara langsung dalam kegiatan edukatif kepada masyarakat lokal. Kepatuhan akan aturan yang diberikan oleh masyarakat (pemangku adat/tokoh) menjadikan Mala Tours mampu membangun hubungan baik dan memberikan kontribusi alternatif ekonomi dari pariwisata. Tindakan positif lainnya yang telah dibangun oleh Mala Tours adalah dukungan terhadap pemasaran serta nilai tambah pada produk lokal. Beragam produk dan mitra telah terbangun dan sepatutnya juga diiringi dengan pendokumentasian mitra baik dari segi produk maupun dukungan yang sudah diberikan oleh Mala Tours.

Hingga saat ini, Mala Tours sudah memiliki kepatuhan hukum yang sangat baik dengan melengkapi aspek legalitas usaha dan serta menjalankan hak dan kewajiban karyawannya. Secara administratif, kepatuhan terhadap hukum sudah dijalani sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan memaksimalkan SDM lokal sebagai mitra mendukung pengarusutamaan gender, dengan menempatkan perempuan pada posisi kunci di manajemen (pemilik dan pengelola) dan posisi teknis (pemandu lokal).

untuk informasi lebih lanjut mengenai aktivitas yang telah dilakukan oleh Mala Tour dalam mewujudkan pariwisata bahari yang berkelanjutan dan bertanggung jawab bersama dengan program Signing Blue.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Post comment